Jumat, 02 Oktober 2009

Malaikat Bersayap Cacat

Kota Tua, Jakarta Kota,
2009, 06.30 WIB


Sebenarnya Jakarta bukanlah pilihan yang tepat dijadikan sebagai tempat liburan apalagi pada saat long weekend seperti sekarang ini, yah tapi mau bagaimana lagi, untuk orang-orang sepertiku yang hanya mengandalkan pendapatan dari kerja sampinganku sebagai tukang foto sekaligus kuli gambar, jelas sekali berbeda dengan tuan dan puan berkantong tebal yang setiap menjelang libur panjang akan membuka peta buta dunia untuk menentukan tempat ber-holiday ria. Memang sih tidak semua orang kaya seperti itu, contohnya seperti Pak Rudi yang saat ini sedang bercengkrama dengan sobat kentalnya Pak Hendarto, Pak Rudi adalah seorang pengusaha real estate yang cukup berhasil, tetapi dihari libur panjang seperti sekarang beliau lebih memilih bersepeda ria dikawasan Kota Tua ini, sama halnya seperti Pak Hendarto, pengusaha barang elektronik itu lebih senang menemani sahabatnya berkeliling Kota Tua dengan sepeda onthel (sepeda kumbang) nya. Mereka terlihat asik bercerita, entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak bisa mendengarkan karena jaraknya yang cukup jauh dari tempatku duduk saat ini, tetapi cukup jelas untuk kulihat. Sesekali mereka saling melempar candaan-candaan lucu, hal itu terlihat dari tawa mereka yang pecah diantara lontaran-lontaran ucap diantara mereka, apa yang menjadi bahan candaan mereka pun aku tidak tahu karena itu bukanlah urusanku.
Sebenarnya bukanlah aktivitas Pak Rudi dan Pak Hendarto yang menjadi perhatianku saat ini, dari tempatku duduk sekarang, ini merupakan tempat kesukaanku diarea ini karena dari sini aku bisa memperhatikan sekaligus menggambar beragam aktivitas orang-orang yang berjalan hilir mudik, dari spot inilah saat ini aku memperhatikan seseorang, seekor, atau apapun itu istilah yang tepat untuk menyebutkannya aku tidak tahu,
karena bila aku katakan seseorang sudah pasti itu ditujukan kepada manusia, sedangkan seekor lebih cocok digunakan kepada binatang, sedangkan yang aku perhatikan saat ini lebih mulia daripada hewan bahkan lebih baik hati daripada manusia, karena yang saat ini berada tak jauh dari hadapanku, aku melihat sesosok (eureka! Mungkin itu sebutan yang cocok meskipun aku masih merasa belum tepat) malaikat! Ya, aku melihat sesosok malaikat.
Jelas sekali terlihat bahwa dia adalah malaikat, aku mengetahui itu karena terlihat dari sayap yang ia miliki, sepasang sayap layaknya burung merpati dan sayap itu asli, bukan tipuan,
sebenarnya sudah tidak asing lagi bagiku melihat kehadirannya disini karena satu minggu yang lalu, ditempat yang sama aku sudah melihatnya duduk seorang diri, bahkan hampir satu bulan yang lalu pun aku melihat kehadirannya di Stasiun Beos Jakarta kota, hanya saja pada waktu itu penampilannya tidak selusuh sekarang, waktu itu dia terlihat rapih dengan jubah putihnya yang bersih dan sayap berbulu lembut bahkan lebih lembut dari sutra yang terlipat amat rapih dibelakang punggungnya. Saat itu dia tidak duduk sendirian, ada beberapa calon penumpang kereta yang duduk sambil bercengkrama bersamanya, duduk dibangku peron dan selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang lewat dihadapannya, tetapi apa yang terjadi padanya kini?
Jubahnya tak lagi putih bersih, begitu pula kulit tubuhnya yang terlihat lebih gelap dibandingkan sebelumnya, mungkin dikarenakan terbakar oleh sengatan matahari Jakarta yang bersinar tidak terlalu ramah, rambutnya acak-acakan, tidak tersisir teratur, sepertinya akibat dari debu dan asap knalpot kendaraan di Jakarta yang semakin bertambah padat, dan satu hal lagi yang membuatku terenyuh adalah ketika aku perhatikan kondisi sayapnya yang tidak lagi putih lembut dan segagah dulu, bahkan sayap kirinya tidak dapat terlipat sempurna seperti semula, sepertinya sayap kirinya itu terluka atau mungkin bisa juga karena patah, beberapa lembar bulu sayapnya terlihat rontok yang mengakibatkan beberapa bagian permukaan sayapnya terlihat botak, hal ini tentu saja merepotkan petugas kebersihan yang sedang menyapu didekatnya, dengan wajah yang cemberut petugas kebersihan itu berlari-lari kecil mengejar bulu-bulu rontok itu karena tertiup angin, bahkan beberapa pengunjung ditempat ini terlihat menghindar dan memasang wajah jijik ketika bulu-bulu itu terbang kearah mereka.
Ada apa gerangan? Kenapa semua menjadi berubah drastis seperti ini? Dulu orang-orang selalu menantikan bulu-bulu sayapnya yang rontok, dulu orang-orang bahkan rela untuk saling beradu bogem mentah untuk mendapatkan bulu sayapnya yang rontok melayang lembut jatuh ketanah, anak-anak kecil yang berasal dari kampung sekitar sini pun dulu sangat setia duduk berjam-jam dihadapan Sang Malaikat itu untuk menantikan dia bercerita disuatu senja saat langit terlihat jingga keemasan.
Bila melihat apa yang telah menimpanya saat ini seharusnya dia sudah pergi dari tadi untuk bunuh diri dengan cara apapun asalkan tidak menyisakan rasa sakit yang teramat sakit,
tetapi saat ini yang aku lihat adalah hal yang sebaliknya terjadi, dia masih duduk tersenyum dan masih berada diatas bangku bergaya art nouvo itu, masih setia menanti anak-anak kecil yang datang untuk mendengarkan ceritanya, walau sebenarnya tak akan pernah ada lagi satu orang anak pun yang akan sudi mendekatinya,
wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan kebencian kepada manusia, tidak menampakkan rasa sakit yang diderita oleh sayap kirinya yang kini cacat, gerak-geriknya tidak menunjukkan bahwa dia merasa kesepian, yang aku lihat dari dirinya saat ini adalah rangkuman kerendahan hatinya, mencintai tetapi tidak mengharapkan untuk kembali dicintai, yang aku lihat adalah wajahnya yang hanyut dalam syukur disetiap helaan nafasnya.
Aku tersadar, kulihat arloji yang melingkar dipergelangan tangan kananku, sudah cukup lama aku duduk terdiam tanpa sedikitpun menggoreskan pensil diatas sketch book ku, bergegas kumasukkan kembali buku sketsaku beserta seperangkat pensil dan penghapus conte kedalam tas ranselku yang telah lusuh, sedikit sulit untuk berdiri karena terlalu lama aku berada dalam posisi duduk, kuregangkan tubuhku sesaat sambil menguap lebar agar oksigen kembali memenuhi ruang paru-paruku dan terbawa bersama darah yang mengalir menuju keotakku.
Kulangkahkan kakiku dengan mantap sambil menenteng ransel jelek milikku, tanpa sedikitpun keraguan, tanpa setitikpun rasa jijik dan takut, aku berjalan mendekati Sang Malaikat Bersayap Cacat itu, aku amat sangat ingin mendengarkan cerita Lahirnya Sebuah Senja Jingga Keemasan darinya, bahkan aku tidak berniat untuk pulang hari ini, karena mulai detik ini aku memutuskan untuk ikut kemanapun Malaikat Bersayap Cacat ini pergi. Mungkin suatu saat nanti, entah kapan, aku yang akan kembali menceritakan tentang Lahirnya Sebuah Senja Jingga Keemasan kepada anak cucu kalian.
Adakah diantara kalian yang bersedia untuk bergabung denganku ?
Aku rasa tidak akan ada yang sudi.

____________________________________________________________________

yns©2009







Tidak ada komentar:

Posting Komentar