Malam ini aku duduk tertunduk diatas atap rumahku, kali ini tanpa coklat hangat menemaniku juga tanpa kopi hitam tak bergula, hanya aku dan pikiranku.
Gema takbir kemenangan menggema,menggaung menggetarkan rongga2 rusukku,menggoyangkan jantungku yang menggantung kekiri dan kekanan, semoga saja tidak menjatuhkan kolbu yang berada ditengah-tengah jantungku.
Aku merasakan kesepian yang amat sangat sepi sehingga mampu membuatku mendengar sebuah jarum yang terjatuh dari tangan seorang penjahit yang sedang menyulap selembar kain menjadi baju lebaran yang indah.
Kesepian yang awalnya membuatku merasakan kekalahan.
Kumandang kemenangan masih terdengar dimana-mana, membuatku jengah dan hampir iri. Mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Ikut merasakan menang. Entahlah, akupun sangsi bahwa orang-orang itu mampu memaknai kemenangan. Apa yang kalian menangkan? Kalian yakin bahwa kalian sudah menang?
Aku semakin larut dalam sepi, harus sedih ataukah senang hati? Lagi-lagi entahlah, aku tidak tahu.
Aku hanya terganggu oleh sepi ini yang terasa seperti ratusan nyamuk yang mendenging disekitar kepalaku.
Terpekur tafakur tetap berusaha bersyukur,hanya itu yang bisa kulakukan.
Tiba-tiba saja aku merasakan sekelebat angin menyentuh tengkukku, sempat membuat rambut-rambut halusku berdiri, terdengar kepakan sayap nan putih seputih putihnya putih, bersih yang tak bernoda, aku mengenalnya, itu dia, Malaikat Bersayap Cacat, diakah itu? Sayapnya tak lagi cacat, ia menyapaku tapi tak kunjung mendaratkan tubuhnya, masih berputar mengelilingiku sambil menyapaku,
"Hai putra rembulan! Apa yang kau tunggu?" senyuman meledeknya membuatku sedikit terhibur.
"Hey, lekaslah turun! Tidak takutkah kau terlihat oleh orang-orang dibawah sana?" aku setengah berbisik dan setengah berteriak gusar, khawatir orang-orang melihat kedatangan sang Malaikat.
"Siapa yang melihatku? Orang-orang itu? Tidak mungkin! Mereka hanyut dalam kemenangan semu yang membutakan hati." ujarnya sambil terkekeh ringan.
Lalu sang Malaikat terbang meninggi hingga mencapai jarak yang tak bisa kuperkirakan dan tiba-tiba menukik melipat sayapnya sehingga turun dengan kecepatan yang lagi-lagi tak bisa kuperhitungkan,
gawat! Pikirku. Apa dia hendak menghancurkan atap rumahku?!
Sang Malaikat masih menukik bak seekor burung elang yang telah mengunci target mangsanya seekor kelinci.
Setelah tersisa jarak beberapa meter dari atap rumahku secara tiba-tiba ia membentangkan sayapnya selebar mungkin,membuat tubuhnya tertahan angin melawan hukum alam, dia, sang Malaikat mendarat dengan indahnya tak seberapa jauh dariku.
Aku terpukau dibuatnya, sayap itu kini tak lagi cacat, ketika kakinya telah mantap menjejak diatap rumahku, ia melipat rapih sayap dibelakang punggungnya dan berjalan perlahan menghampiriku sembari membawa sesuatu dikedua tangannya. Apa itu? Setelah berjarak 3 lengan dariku barulah aku sadar, dia membawa 2 cangkir minuman hangat dan menyodorkan salah satunya untukku.
"Ini, cobalah, coklat hangat buatanku sendiri, persis seperti yang kau ajarkan padaku dulu, kental dan manis." senyumnya sehangat cangkir yang kini sudah berpindah ke tanganku.
Aku segera mencobanya,
Hmmm, mirip sekali dengan coklat buatanku.
" Hmmm, enak sekali, terimakasih." ujarku sedikit bangga.
"Khusus untukmu malam ini, kawan." senyumnya masih terasa hangat.
Cuma aku masih bingung, bagaimana bisa ia terbang dari tempat yang amat jauh sambil membawa coklat hangat yang sampai kini masih mengepulkan uap hangatnya? Pertanyaan itu hanya kusimpan dalam bilik didadaku bersama dengan beberapa pertanyaan yang lain.
"Tidak usah bingung." ucapnya seakan tahu apa yang ada dihatiku.
"Hanya aku yang bisa, tidak perlu dipikirkan, nikmati saja coklatnya." ia terkekeh,khas sekali,hanya dia yang terkekeh seperti itu.
Dia menyeruput coklat hangatnya dan duduk disampingku. Harum sayapnya terbawa pelan oleh hembusan angin hingga merayap masuk kedalam indera penciumanku, nyaman.
"Kau kesepian kawan?" dia selalu saja mampu membaca hatiku.
"Iya." jawabku singkat dan tertunduk lesu.
"Hahaha, Putra Rembulan tidak selemah ini!" ungkapnya sambil menepuk punggungku dengan sayap kirinya.
"Hey!" pekikku terkejut karena perlakuannya itu membuat coklatku hampir tumpah.
"Ups, maaf." katanya sambil masih terkekeh meledek.
Aku membalas menepuk pundaknya agak keras dan juga hampir menumpahkan coklat hangatnya,
"Hahahaha!" kami tertawa berbarengan.
"Apa yang kau cari diatas sini? Bukankah malam ini tidak ada rembulan yang bisa kau nikmati?" pertanyaannya menyadarkanku.
"Iya, apa yang aku cari yah? Entahlah,hehe." nyengir kuda kebiasaanku muncul kembali dibarengi menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
"Sepi, iya, aku tiba-tiba merasakan kesepian." ujarku pelan.
"Hmmm, aku amat bersyukur jika tepat dimalam ini kau merasakan kesepian." dia menatapku tajam.
"Hah? Apa maksudmu? Bukankah seharusnya aku ikut mengumandangkan gema kemenangan bersama orang-orang dibawah sana?" aku bingung.
"Lalu? Kenapa tidak kau lakukan? Bergabunglah dengan mereka." dia menyeruput kembali coklatnya.
"Entahlah,aku tidak bisa."
"Aku mengerti akan apa yang kau rasakan, bersyukurlah." ia melanjutkan kembali,
"Jika kau terhanyut oleh hingar bingar dibawah sana, apakah kau akan bisa terpekur tafakur seperti tadi?" aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Ya! Itulah yang kumaksud, kawan. Bersyukurlah atas kesepian ini, tafakurlah. Pikir dan renungkan apa saja yang telah kau dapatkan selama ini."
aku merasakan pintu bilik-bilik didadaku terbuka lebar, semua isinya meleleh mengalir keluar.
Aku merasakan ada cairan hangat dipipiku, menangiskah?
Segera kuhapus air mataku, malu.
"Tidak perlu malu, Pattra, menangis itu anugrah." aku hanya tersenyum nyinyir dibuatnya.
"Jangan pula kau berpikir menang atau tidak, pasrahkan itu semua, kawan." ia meneguk habis coklat hangatnya dan berdiri.
"Ini." katanya sambil menyerahkan cangkir yang telah kosong kepadaku.
"Pertemuan selanjutnya giliranmu menyuguhkanku coklat hangat ya!" dia terkekeh lagi.
"Mau kemana?" aku agak keberatan akan kepergian sang Malaikat.
"Anugrah kesepian ini hanya untukmu, kawan. Aku ditugaskan hanya untuk memberikan sedikit penjelasan kepadamu." aku hanya menatapnya.
"Baiklah, sudah waktuku untuk beranjak, simpan cangkir itu. Sampai jumpa nanti. Jangan lupa, suguhkan coklat hangat ya!" ia terkekeh dan terbang setelah membentang lebarkan sayapnya, meninggalkanku dalam kesepian yang indah, mungkin.
Kini aku kembali sendiri bersama secangkir coklat hangat yang sudah setengah kosong dan secangkir lagi yang telah kosong.
Benarkah kesepian malam ini adalah anugrah untukku?
Sedikit sesak didadaku,ada sesuatu yang mencoba mendorong keluar,
aku terisak lembut, cairan hangat itu kembali menggantung dikedua mataku dan akhirnya jatuh mengalir, aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku seperti ini. Aku hanya ingin menikmati semuanya malam ini.
Kumandang kemenangan masih menggema memenuhi atap bumi, perlahan aku ikut mengumandangkan lantunan syair-syair kemenangan, cukup terdengar olehku saja. Air mata ini masih terus mengalir membawa serta beribu rasa dan tanya jatuh terbuang ke lantai bumi.
Aku masih terpekur tafakur dan bersyukur...
_______________________________
-copyright yns 2009-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar